Top Picks

Dari 2025 ke 2026: Brand Luxury yang Membentuk Arah Kemewahan

4 hours ago

Tahun 2025 menandai titik balik yang signifikan bagi industri barang mewah global. Setelah beberapa tahun didominasi oleh trend yang cepat berganti, tahun ini kita menyaksikan kembalinya apresiasi terhadap nilai-nilai fundamental, seperti craftsmanship, sejarah brand, dan niat yang mendalam dalam berbelanja. 

Fashion show Hermès Spring Summer 2026 (Sumber foto: www.hermes.com) Fashion show Hermès Spring Summer 2026 (Sumber foto: www.hermes.com)

Laporan Kemewahan 2025 dari Who What Wear menyoroti bagaimana perubahan kepemimpinan kreatif di rumah mode besar dan pergeseran perilaku konsumen membentuk landscape baru yang lebih berfokus pada longevity daripada sekadar estetika sesaat. Simak secara lebih lengkap dalam artikel menarik voilà.id di bawah ini.

Gelombang Baru Para Direktur Kreatif

Karya Matthieu Blazy di Chanel Spring Summer 2026 Look 1, 11, 20 (Sumber foto: www.chanel.com) Karya Matthieu Blazy di Chanel Spring Summer 2026 Look 1, 11, 20 (Sumber foto: www.chanel.com)

Salah satu narasi terbesar di tahun 2025 adalah perombakan besar-besaran di posisi puncak fashion house dunia. Lebih dari 20 desainer baru memulai debut mereka di berbagai heritage brand. Debut yang paling dinantikan termasuk Matthieu Blazy di Chanel, Jonathan Anderson di Dior, Louise Trotter di Bottega Veneta, dan Michael Rider di Celine. Perubahan ini bukan sekadar pergantian personel, melainkan upaya mendefinisikan ulang kode-kode klasik brand untuk audiens modern.

Jonathan Anderson untuk Dior Spring Summer 2026 (Sumber foto: Jonathan Anderson) Jonathan Anderson untuk Dior Spring Summer 2026 (Sumber foto: Jonathan Anderson)

Di bawah Blazy, Chanel beralih dari sekadar mengikuti buku panduan lama menuju visi yang lebih percaya diri dan baru, namun tetap menghormati warisan Coco Chanel. Sementara itu, di Celine, Michael Rider membawa pendekatan presisi pada kemeja, outerwear yang terstruktur, siluet tas yang halus, dan langsung memicu minat besar dari para kolektor. Langkah ini menunjukkan bahwa rumah mode kini lebih mengutamakan “nilai kreatif” yang kuat pada desain dan terasa disengaja, serta memiliki karakter unik yang jelas.

Kebangkitan Style yang Timeless dan Investasi Cerdas

Ralph Lauren Spring 2026 (Sumber foto: www.ralphlauren.com.au) Ralph Lauren Spring 2026 (Sumber foto: www.ralphlauren.com.au)

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, konsumen barang mewah kini lebih berhati-hati. Alih-alih melakukan pembelian impulsif berdasarkan trend yang viral di media sosial, pembeli lebih memilih “barang investasi”. Brand yang melambangkan keabadian seperti Ralph Lauren, Hermès, Cartier, dan The Row menjadi pemenang besar tahun ini. Ralph Lauren, khususnya, mengalami lonjakan minat yang masif. 

Cartier (Sumber foto: Instagram/cartier) Cartier (Sumber foto: Instagram/cartier)

Dengan menghidupkan kembali koleksi arsip mereka, brand ini berhasil menarik audiens muda yang mendambakan estetika aspiratif yang timeless. Produk seperti kemeja Oxford dan cable knits mencapai tingkat permintaan baru. Prinsip utama belanja di tahun 2025 adalah longevity dan wearability daya pakai. Konsumen tidak lagi tertarik pada produk yang hanya bisa dipakai satu kali untuk acara khusus, mereka mencari produk yang dapat memperkuat lemari pakaian mereka untuk bertahun-tahun ke depan.

It-Items Tahun 2025

Tas Chanel 25 (Sumber foto: www.chanel.com) Tas Chanel 25 (Sumber foto: www.chanel.com)

Meskipun ada pergeseran ke arah minimalisme, beberapa item tetap mendominasi pasar. Misalnya adalah Chanel 25 yang diluncurkan pada musim semi 2025 dan tas ini menjadi barang yang paling dicari oleh klien kelas atas. Dengan berbagai ukuran dan material, tas ini dianggap sebagai investasi yang nilainya tetap stabil. Ada juga jam tangan Cartier dengan model klasik seperti Tank, Panthère, dan Baignoire yang didesain ulang sangat populer di kalangan pembeli muda yang memasuki pasar barang mewah melalui kategori jam tangan. 

Ledakan Perhiasan dan Jam Tangan Mewah

Jam tangan Rolex dan Patek Philippe (Sumber foto: Instagram/rolex dan Instagram/patekphilippe) Jam tangan Rolex dan Patek Philippe (Sumber foto: Instagram/rolex dan Instagram/patekphilippe)

Saat kategori mode lainnya mengalami perlambatan, sektor fine jewelry justru melonjak tajam. Data menunjukkan bahwa perhiasan dianggap sebagai aset yang mempertahankan nilai dan memiliki makna mendalam. Grup Richemont (pemilik Cartier) melaporkan kenaikan penjualan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen saat ini lebih suka memanjakan diri dengan “self-gifting” berupa perhiasan atau jam tangan yang bisa diwariskan, daripada ready to wear yang lebih cepat berganti musim. Jam tangan seperti Patek Philippe dan Rolex tetap menjadi simbol status yang juga berfungsi sebagai instrumen keuangan yang cerdas.

Pasar Vintage dan Narasi Arsip

Produk vintage branded banyak disukai (Sumber foto: Instagram/gucci)

Nostalgia menjadi tema sentral tahun ini. Pasar barang mewah bekas (vintage) tumbuh sekitar 9% dari tahun sebelumnya, mencapai nilai hampir $38 miliar pada tahun 2025. Menariknya, rumah mode kini mulai mengkapitalisasi trend ini dengan meluncurkan program resale internal atau kurasi barang antik mereka sendiri. Brand seperti Gucci, Armani, Coach, dan Ralph Lauren telah memulainya. Shoppers, terutama dari kalangan Gen Z, mencari cerita dan koneksi dengan apa yang dibeli. Mereka lebih tertarik pada gaya arsip yang diimajinasikan kembali untuk masa kini.

Kembalinya Fokus pada Craftsmanship

Craftsmanship Loewe (Sumber foto: Instagram/loewe) Craftsmanship Loewe (Sumber foto: Instagram/loewe)

Di tahun 2025, kemewahan berarti kembali ke seni pembuatan barang itu sendiri. Kampanye seperti “Craft Is Our Language” dari Bottega Veneta menonjolkan tangan-tangan pengrajin di balik produk kulit mereka. Begitu pula dengan Loewe yang membedah proses pembuatan tas Amazona 180 untuk menunjukkan kerumitan produksinya. Kualitas, daya tahan, dan seni kerajinan kini lebih berharga daripada sekadar logo. Brand mulai “membuka tirai” untuk menunjukkan kepada konsumen bagaimana produk dibuat, menciptakan transparansi yang dihargai oleh pembeli modern yang semakin kritis terhadap aspek produksi dan keberlanjutan.

Dunia mode akan terus mengalami guncangan kreatif, salah satunya dengan penunjukan Grace Wales Bonner sebagai Direktur Kreatif pakaian pria di Hermès yang sangat dinantikan. Masa depan kemewahan akan menjadi milik brand yang mampu memicu perasaan, membina imajinasi, dan menawarkan kreativitas yang bermakna. Tertarik untuk mengoleksi produk dari brand di atas? Segera kunjungi website atau butik voilà.id untuk mendapatkan produk yang kamu suka.

Share this article